Tampilkan postingan dengan label milestone. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label milestone. Tampilkan semua postingan

Kamis, 12 Januari 2012

Rendezvous Me

Memilih profesi bukanlah pekerjaan mudah, terlebih lagi idealisme dan humanisme akan selama mengalami benturan. Sering kali orang-orang yang telah mengeyam dunia kerja mengatakan bahwa kehidupan yang sesungguhnya justru baru dimulai ketika memasuki dunia kerja. Sayangnya, aku sangat sepakat dengan pernyataan tersebut, dan seharusnya ada penambahan yaitu saat memasuki lingkungan masyarakat yang heterogen. Tidak jarang orang-orang merasa kelabakan ketika memasuki dua dunia baru itu.

Mencari pekerjaan menjadi jauh lebih susah karena seseorang memiliki standar tinggi terhadap kualitas diri dan merasa diri lebih layak di posisi tertentu. Akan tetapi hal tersebut merupakan penilaian sepihak, yaitu dari diri kita sendiri. Alhasil, seringkali seseorang berpindah-pindah tempat kerja dengan alasan yang sebenarnya sangat manusiawi yaitu gaji yang tidak sesuai, lingkungan kerja yang tidak kondusif serta rekan kerja yang tidak menyenangkan. Tidak bisa dipungkiri aku pun tergoda dengan tiga hal tersebut ^^ tapi pada akhirnya aku harus bertanggung jawab pada apa yang sudah menjadi pilihanku sehingga apapun resikonya harus aku tanggung dengan ikhlas.

Selasa, 15 November 2011

Istilah-istilah itu...

Minatku selalu berbeda dengan orang-orang kebanyakan dimana aku dulu biasa bergabung. Aku yang liar dan sulit di atur, kemudian aku semakin menyadari betapa aku sangat "anti kemapanan" alias kurang betah dengan zona aman. Minatku pada dunia sastra dan budaya membuatku semakin "berbeda" dengan mereka. Kawan-kawanku lebih memilih dunia sains sebagai fokus akademiknya. Sangat bagus dan tidaklah salah, tetapi bukan berarti duniaku itu salah dan tidak berguna dibanding mereka. Aku yakin ilmu berasal dari akar yang sama, dan yang membedakannya hanya objek konsentrasinya saja. Berilmu untuk kebaikan apa yang salah?

Beberapa kali aku mendengar mereka mengutip suatu istilah dan salah mendefinisikannya. Aku tidak banyak bicara, pada awalnya, tetapi lama kelamaan semua semakin tidak jelas karena mereka hanya mengetahui istilah tersebut dari permukaan saja, itu pun salah pada beberapa bagian.

Rabu, 02 November 2011

Tumpukan Bukuku yang Pertama

Huuft, empat belas buku masih kurang? Tenang saja kawan, aku masih punya sepuluh lagi yang bisa kau pakai. 0_o

Ini baru tumpukan buku pertama yang harus aku tuntaskan untuk satu mata kuliah saja, bayangkan cuma satu mata kuliah kawan, karena mata kuliahku yang lain punya tumpukan tersendiri di sepanjang ruang baca di kamarku. Setiap tumpukan harus aku lahap sampai habis, mengunyahnya perlahan supaya mudah bagiku menelan dan mencernanya.

Selasa, 01 November 2011

Paradoks

Beberapa orang kawan sering mengeluh mengenai perilaku perempuan yang berjilbab, aku berjilbab dan aku mengerti apa maksud mereka.

Ada hal yang menarik sejak pertama aku mengenal seorang teman perempuan di kampus. Semua orang pasti sepakat bahwa dengan penampilan seperti yang dia miliki--berjilbab sangat rapi--pasti juga memiliki perilaku yang sopan, setidaknya pada orang asing. Setelah hampir empat bulan, aku memperhatikan ada keganjilan dengan sikapnya. Aku dan seorang teman perempuanku yang lain mulai mengamati sikapnya pada setiap teman-teman perempuan di kampus, sikapnya begitu tidak ramah. Seringkali kami berpapasan dan aku atau temanku yang lain menyapanya dia bahkan tidak menoleh ataupun tersenyum. Berkali-kali kami menganggap dia tidak mendengar sapaan atau panggilan kami sehingga kami berlalu sambil tersenyum tanpa ambil pusing.

Sabtu, 29 Oktober 2011

Cogito Ergo Sum

Descartes berpendapat "cogito ergo sum" atau "aku berpikir maka aku ada". Sangat filosofis memang. Manusia diciptakan Tuhan, bagiku Allah swt, pasti memiliki tujuan. Muslim ataupun bukan, para penganut agama akan meyakini bahwa kehidupan ini semu dan hanya tempat singgah sementara. Rumah abadi dan nyata adalah justru alam setelah kematian, yang sebenarnya awal dari hidup itu sendiri.

Dulu pertama kali film "Matrix" muncul, aku hanya menikmati kecanggihan CGI dan alur ceritanya yang menarik. Beberapa waktu yang lalu aku mencoba menontonnya lagi. Ada banyak hal yang dulu aku lewatkan atau bahkan tidak peduli. Matrix ternyata sangat filosofis. Aku semakin memperhatikan setiap dialog dan semua kode dan tanda yang ada disana.

Rabu, 26 Oktober 2011

Behave Yourself!

Bagaimana rasanya ketika ada orang lain yang berpapasan dan tiba-tiba berucap kata "sh*t" saat tidak sengaja kita menghalangi jalannya? Aku tahu rasanya seperti apa. Seorang gadis muda, berstatus mahasiswa di salah satu universitas. Cantik dan fashionable tetapi sayang tidak berperilaku layaknya seorang intelek.

Aku jadi teringat statusku di FB beberapa waktu lalu, "Knowledge is Power, but Character is More". Rasa-rasanya mereka yang bergelar pelajar bahkan mugkin para pejabat sekalipun tidak memiliki karakter yang kuat. Mereka memang pintar tetapi kepintarannya itu tidak pernah atau mungkin belum diiringi oleh karakter yang rendah hati. Mereka selalu merasa diri lebih hebat, lebih mumpuni, lebih segalanya ketimbang mereka yang tidak mampu memperoleh kesempatan untuk mengeyam pendidikan.

Minggu, 16 Oktober 2011

i know that i know nothing!

Pernahkah merasa terganggu karena tidak mengetahui banyak hal tentang sesuatu yang kita pelajari? Jika iya, maka reaksi yang muncul adalah kita pasti bergegas untuk mencari ilmu yang dibutuhkan. Caranya? Tentu salah satunya adalah membaca dan menulis. Permasalahan muncul karena banyak yang enggan untuk membaca, apalagi menulis.

Miris rasanya ketika mengetahui mereka yang menganggap dirinya mahasiswa ternyata sangat malas untuk membaca, atau bahkan pelajar tingkat sekolah dasar atau menengah pun sama. Para oknum pelajar itu kehilangan semangatnya ketika harus berhadapan dengan buku-buku yang bervolume lebih dari biasa. Raut wajah mereka akan langsung berubah pada saat melihat huruf-huruf yang terangkai di dalamnya adalah bahasa asing.

Minggu, 09 Oktober 2011

Me & You

Pertengkaran atau perselisihan dalam setiap hubungan apapun pasti ada. Orang bijak bilang "pertengkaran membangun ikatan", mungkin sebetulnya justru mempertanyakan ikatan itu sendiri. 

Aku yakin pertengkaran muncul karena masing-masing miliki ego untuk diakui. Pertemanan yang berlanjut pada persahabatan pasti pernah memiliki sedikitnya pertengkaran, meski tidak hebat. Keluarga dan kekasih juga memiliki resiko pertengkaran yang tidak bisa dihindarkan. Hanya saja yang membedakan adalah sikap dan perasaan apa yang muncul setelah pertengkaran itu.

Aku selalu ingin menang, kau pun begitu. Aku keras, kau coba melunakkan. Aku sedih, kau coba menghiburku. Aku sibuk, kau terkadang tidak bisa membantuku. Aku terlalu sensitif, kau kesal tapi mencoba memahami. Aku lemah, kau coba menguatkan. Lalu ada waktunya semua itu berubah dan kau menuntut hal yang sama yang pernah kau berikan padaku.

Selasa, 26 Juli 2011

Kita (memang) Bertopeng

"Tapi buka dulu topengmu, buka dulu topengmu
Biar kulihat warnamu, kan kulihat warnamu" (Peterpan, Topeng)

Sadari, atau tepatnya jujur, kita selalu ingin dianggap baik oleh semua orang. Siapapun atau apapun kita bisa diubah jika kita menggunakan topeng yang tepat, tapi bukankah sangat melelahkan selalu menjadi sosok palsu?

Kalau pertanyaan itu untukku, aku akan jawab, "Ini AKU, tidak bertopeng karenanya aku tidak merasa kuatir atau takut saat berada dalam hal-hal baru. Aku hanya menjadi diriku sendiri, jika mereka bekeberatan dengan diriku, aku sungguh tidak mau ambil pusing.". Pernyataan yang membuatku dianggap sangat arogan atau sinis.

Aku tidak tahu apakah mereka yang berpikiran itu sebetulnya bersuara atas suaranya sendiri atau topengnya. Secantik dan seindah apapun topeng, ia tetap topeng. Jika pada mulanya topeng memang dipopulerkan oleh para jagoan (Batman, Spiderman, Flash, Robin, Cat Woman etc) sebetulnya para penjahat juga sama (Jason, Darth Vader, etc) mereka sama-sama bersembunyi atas jati diri sesungguhnya agar bisa bertindak atau bersuara dengan lantang.

Banyak orang yang aku kenal memiliki topeng berlapis yang semakin lama semakin aku sulit melihat kejujuran dalam diri mereka, ketika aku jujur dengan pikiranku sendiri justru itu dianggap sebuah kesalahan. Jika aku dapat diterima hanya jika aku bertopeng, maaf, biarkan aku sendiri dan menjadi diriku yang telanjang.

Ginessa & Equus

Seputih buih adalah arti bebas dari kata "Ginessa", yang juga diperlambangkan dengan seekor kuda putih. Di salah satu akun milikku, kuda putih itu berdiri pada dua kaki belakangnya menghadap laut seolah menantangnya.

Cukup lama setelahnya aku sempat menyaksikan scara streaming pementasan drama Equus yang pemeran utamanya adalah Radcliffe, Richard Griffith adalah sutradara drama itu. Lagi-lagi kuda putih dijadikan sebuah ikon. Alan (Radcliffe) "jatuh cinta" pada seekor kuda putih. Shockiiiiing ^^

Ginessa & Equus....

Minggu, 24 Juli 2011

Nilai atau Ilmu?

Seberapakah arti sebuah nilai ketimbang ilmu? Mungkin jauh lebih penting karena justru nilailah yang "dianggap" penentu dalam berbagai hal. Seolah nilai adalah sebuah kunci menuju kesuksesan, padahal bukankah dulu semua orang selalu mengelukan bahwa Ilmu Pangkal Pandai dan Ilmulah yang membuat orang bernilai "lebih"?

Bukan cuma mereka yang merasa diri sebagai seorang pelajar saja yang membutuhkan nilai melainkan semua orang dengan berbagai profesi. Nilai adalah sebuah standar acuan yang digunakan untuk menetapkan sebuah kualitas. Entah kenapa bagiku nilai menjadi sebuah paradoks. Seseorang dikatakan pintar jika mendapat nilai tinggi, meskipun mungkin nilai hanya sekadar nilai bukanlah kualitas ilmunya.

Sebuah pertanyaan muncul "Nilai tinggi itu karena berilmu bukan?" Benarkah seperti itu? Bagiku belum tentu, tapi dunia pendidikan sepertinya memang menanamkan paradoksi atas makna sebuah nilai. Beberapa tahun yang lalu sistem ranking dihilangkan, tapi sepertinya masih belum bisa sepenuhnya dihilangkan. Nilai dan peringkat masih dianggap penting meskipun kejujuran dan keilmuan juga penting. Pada akhirnya semua orang yang membutuhkan nilai tersebut akan melakukan berbagai hal untuk memperoleh yang tertinggi.

Sebagai seorang mahasiswa, aku berusaha keras untuk mendapatkan nilai tertinggi tapi jika tidak bisa setidaknya aku mendapatkan ilmu dan bisa mengaplikasikannya. Satu hal yang selalu aku coba terus camkan terhadap diriku sendiri adalah BELAJAR dengan JUJUR.

 Sebagai seorang "praktisi", aku tidak mau berkutat dengan seberapa pintar seseorang jika usahanya itu masih apa adanya dan nakal. Aku akan sangat menghargai mereka yang mengakui mereka perlu banyak belajar dan berusaha keras untuk mengisi dirinya dengan ilmu bukan dengan nilai yang berupa angka atau huruf.

Ajari aku untuk jujur sehingga aku tidak merasa terasing dengan kejujuran itu.

Sabtu, 23 Juli 2011

Surat Kecil Milikku Sendiri

Tulisan ini bukan resensi film "Surat Kecil untuk Tuhan", tapi justru kesan ketika aku harus melihatnya pada jam yang tidak biasanya. Pengalaman menariklah pokona mah.

Bukunya pun belum pernah aku lihat apalagi membaca, terus alasan kenapa menontonnya, ya cuma sebuah alasan sederhana, "film Indonesia euweuh nu rame bin berkualitas ngan jurig jeung jurig we". Setelah di loket baru ngeuh klo harganya dua puluh ribu rupiah per orang hha untungnya ada penyedia dana ^^ plus baru ngeuh juga klo baru dmulai jam 20 hha aduduh ya sudahlah terpaksa harus menunggu sejam.

Selama film berlangsung tidak ada suara celotehan tapi isakan-isakan kecil yang sepertinya memang terhanyut alur ceritanya. Kami pun sebetulnya terbawa tapi dengan kisah yang kami miliki sendiri.

"Kenapa harus film ini?"
"Supaya kamu semangat dan yakin klo semua penyakit psti ada obatnya"
tapi anehnya komentar yang berbeda keluar ssetelah film berakhir
"heuuuh nyesel aku, salah pilih film"
"ya sudahlah toh udah kagok"

Manusia slalu membuat dan menyusun rencana sebaik dan sematang mungkin tapi sepertinya slalu ada Kuasa yang lebih hebat yang mengatur semua. Sempat terpikir lalu kenapa harus berencana? tapi itu adalah seperti sebuah kontrol alam bawah sadar bahwa semua harus tersusun baik.

Jika tokoh utama itu ingin menjadi bintang Cirius yang selalu bersinar terang pada saat langit mendung, aku ingin menjadi matahari yang miliki energi sendiri untuk menyinari orang lain, tapi kalau ituy terlalu ambisius, aku cukup menjadi lilin. Aku tidak besar dan tidak hebat, aku tidak cantik juga tidak menarik tapi setidaknya aku pernah ada dalam hidup mereka yang dunianya aku masuki.

Surat kecilku sebenarnya hanya meminta-Nya untuk menjaga mereka yang aku sayang ketika aku tidak lagi menjaga dan mencintai mereka. Memberikan hati yang lapang dan jiwa yang tenang kepada dia sang nahkoda hidupku, aku menitipkan semua kepadamu. Hidupku bermula dari mimpi dan mungkin aku pun bagian dari mimpi itu sendiri. Kepada-Nya aku titipkan cinta ini agar dapat membuatnya tetap hidup dan bertahan demi mimpinya.

MU BR7

Sabtu, 16 Juli 2011

Kepalaku bukan milikmu!

"Seharusnya kamu tidak seperti itu, apa anggapan orang terhadap kamu nanti?"

Sebenarnya, siapa kita adalah cara kita melihat diri sendiri ataukah bagaimana orang lain melihat siapa diri kita?

Manusia memang tidak bisa berlepas dari keterikatannya dengan manusia lainnya tetapi ketika mereka ingin lepas pun sesungguhnya kebebasan itulah yang mengikatnya.

Selalu ingin dimengerti dan dituruti, setidaknya itu adalah keinginan semua orang. Kenyataan yang ada di depan mata lah yang akhirnya akan membuat dia semakin ingin dimengerti atau belajar memahami orang lain. Sayangnya, kenyataan itu relatif. Dia berubah dan bergantung pada siapa yang melihat dan mengalaminya. Bersikap empati belumlah membuat kenyataan seseorang menjadi kenyataan kita.

bagaimana caranya kita menilai orang lain jika pandangan kita masih menggunakan standar yang kita paksakan pada orang lain? Selalu saja ada istilah "menerima apa adanya" ketika harus berinteraksi dengan orang lain, tetapi "apa adanya" dalam standar siapa jika diri seseorang yang apa adanya pun dianggap "tidak biasa"?

Berpikir dan bersikaplah seperti dia agar kamu bisa memahami apa yang dia rasakan di dalam hatinya, tetapi hal itu hanya akan terjadi jika kamu bersedia untuk terbuka terhadap semua kejutan yang mungkin kau akan dapatkan!

Jumat, 15 Juli 2011

De Qualentie: sahabatku, keluargaku


Apakah sahabat adalah seorang yang selalu bicara manis di depan tapi busuk di belakang, bicara sesuatu yang memang ingin qta dengar, bukan apa yang benar? Membenarkan semua sikap dan perkataan qta yang salah hanya untuk membuat qta merasa nyaman, membiarkan semua yang terjadi begitu saja tanpa dipikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya?
Keluarga, apa sih maksudnya? Apa sebuah nama dimana cuma ada mommy dan daddy juga anak-anaknya? Jika ya, betapa sempitnya makna itu.
De Qualentie...awalnya adalah hubungan pertemanan yang kemudian tumbuh menjadi sebuah persahabatan lalu berubah keluarga. Semua itu mengalami tahapan, g langsung menjadi sahabat atau keluarga. Bukankah qta merasa nyaman untuk bersikap dan berbuat apapun sekarang? Tapi untuk mencapai titik itu, banyak yang harus dipelajari dan dipahami dari teman qta.
Qta sepakat bahwa dalam hubungan ini, qta menerima satu sama lain satu paket, kekurangan+kelebihannya. Qta bertumbuh menjadi pribadi yang terbuka dan apa adanya, mampu memahami tanpa menuntut untuk dipahami, tidak lagi menghakimi dan menilai orang lain dari luar tanpa merasakan interaksi sebelumnya.
Dalam persahabatan ada pertemuan dari berbagai karakter, pemikiran, emosi, dan kebiasaan yang memang begitu adanya. Dalam keluarga setiap orang punya ciri khas masing-masing. Pertengkaran atau masalah yang muncul adalah biasa, salah paham juga biasa terjadi, tetapi komunikasi adalah solusinya, dan akhirnya qta sadari bahwa masalah muncul u/dewasakan qta.
Jadi tampar aq jika perlu u/ingatkan aq, bicarakan hal yang tidak pernah mau aq dengar agar aq mngerti realita yang ada, bukakan mataq dengan banyak hal sehingga aq tidak lagi menjadi individu yang picik dan sempit. Untukq sahabat dan keluarga adalah orang2 yang mampu menerimaq apa adanya tanpa menilai.
Masih maukah kalian menjadi bagian dari sahabat dan keluargaq, De Qualentie?

Jumat, 13 Mei 2011

Aku & Buku

"Kalau sekarang budaya membaca di Indonesia dipermasalahkan, dimana masyarakat lebih suka menonton televisi daripada membaca buku, bukankah itu juga sebuah budaya?"

Begitulah lebih kurang dosenku tercinta membicarakan hal yang menurut orang lain sangat membosankan. Membaca adalah hal yang sebetulnya mudah dilakukan tapi, entah kenapa banyak orang bahkan yang mengaku pelajar/mahasiswa pun terkesan alergi untuk membaca.

"Mungkin karena orang Indonesia g bisa baca font 10, makanya tulisan harus dibuat besar-besar. Spanduk yang tulisannya cuma itu-itu doang selalu dibaca berkali-kali dan mereka teriak-teriak dengan apa yang tertulis pada spanduk itu tanpa mengerti maksud atau maknanya."

Aku dan kawan-kawan tertawa. Logikanya kan memang begitu, setiap kali ada unjuk rasa pasti mereka akan menyerukan hal yang tertulis dengan penuh semangat, tapi ketika diminta untuk membaca buku teks untuk kebutuhan akademisnya, pasti ogah. Apalagi kalau buku itu tebalnya sampai 10cm, cukup tebal untuk dijadikan alas kepala alias bantal atau ganjal pintu  hhe. Teman-teman mahasiswa sastra d kampus MIRACLE dg minat sastra mungkin sudah shock waktu liat buku Literature-nya Perrine dan Theory since Plato yang luar biasa dahsyat tebelna. (mun dikilo lumayan hha).

Aku, alhamdulillah, tidak mengalami sindrom buku tebal (ngantuk, males, bosan). Allah swt kasih aku kesanggupan untuk melahap segala jenis buku dengan berbagai ketebalan dan masih merasa lapar. Sebennarnya ini atas andil kakek tercinta yang meninggal ketika aku masih siswa SMP. Sebagai seorang sastrawan, budayawan, seniman, pejuang, guru dan dosen, kakek menguasai beberapa bahasa asing selain berbagaia bahasa daerah. Bahasa Jerman, Belanda, Inggris, Jepang, Cina dan Arab fasih dituturkan. Karena kemampuannya berbahasa, rumah kami dipenuhi banyak buku, majalah atau koran dengan berbagai bahasa.

Sebagai sastrawan, seniman & budayawan Sunda, beliau pun banyak menghasilkan karya seni yang kemudian menurutku tidak menarik, saat itu. Anak kecil mana yang suka dengan pentas drama atau kawih Cianjuran atau mamaos??? Beliau selalu membiarkan aku mengacaukan tumpukan koleksi bukunya dan selalu menyodoriku buku baru.

Ulang tahunku yang ke-4, beliau sudah menyelesaikan sebuah sendratari berjudul SANGKURIANG. Buku naskahnya tipis, bersampul kuning, dengan gambar seorang wanita dan seorang pria. Beliau berpikir aku tertarik dengan naskah-naskah Sunda ketika melihatku membaca naskah miliknya, padahal aku sama sekali bingung dan so' tahu dengan apa yang ada dalam buku itu. Kapanpun kakek mengajakku jalan-jalan, pasti selalu saja menghadiahi buku baru yang pasti akan selalu ditanya tentang isinya setelah aku membaca.

Sangat disayangkan ketika seorang pelajar ataupun mahasiswa malas membaca, berlepas dari apa yang diperintahkan Islam tentang Iqro, membaca adalah sebuah kebutuhan. Dosen-dosenku tercinta selalu "menyiksa"ku dengan banyak teks bahasa inggris pula padahal semaasa SMA teks tidak pernah diberikan secara utuh.

Aku berharap para pengajar bahasa dan sastra di sekolah menengah mulai memperkenalkan karya-karya sastra supaya mereka tidak mengalami shock therapy ketika harus membaca teks sastra. Bukan berarti mereka dengan minat non-sastra bisa santai karena tidak harus berurusan dengan teks, selama menjadi manusia yang selalu butuh hal yang baru, BUKU bisa menjadi salah satu cara memberikan PANDANGAN yang BARU akan hal-hal yang SUDAH dianggap BIASA menjadi TIDAK BIASA.

BUKU JENDELA DUNIA, AYO MEMBACA!