Tampilkan postingan dengan label me novella. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label me novella. Tampilkan semua postingan

Senin, 01 Agustus 2011

Psyche [5]

“Bagaimana harimu tadi?” suara di seberang sana membuatku begitu tenang. Aku masih menikmati sisa gaung suaranya ditelingaku saat dia kembali menanyakan hal serupa. Oh Gin, sadarlah kau ini seperti tidak pernah mendengar suaranya saja.

“biasa saja tidak ada yang istimewa. Harimu?” Hahaha. Kenapa kau tertawa? Kau tidak pernah menganggap hari-harimu itu istimewa kecuali saat kau bersamanya. Hey, kelulusan aku itu istimewa. Istimewa karena dia yang mendampingimu. Tidak. Iya. Tidak. Iya Ginessa.

“Luar biasa, semua menyenangkan.” Jawabnya. Jujur saja aku selalu iri dengan jawaban yang diberikannya, dia begitu optimis dan memandang semua dengan begitu lurus, sangat berbalik denganku. Memang, kau itu pesimis. Ah itu juga karena kau. Hahaha aqku hanya memberikan sisi buruknya saja. Ya jadi kau ikut andil dalam hidupku. Tapi semua terserah padamu nona cantik. 

“Baguslah. Apa kerjaanmu sekarang? Aku tidak mau mengganggumu.” Aduh kau ini basa-basi yang sangat tidak berkualitas. Kenapa? Hahaha kau dengarkanlah dirimu sendiri. Whatever!

“Mendengarkanmu.” Aku merasakan sebuah tarikan di ujung bibirku. Hahaha dia lebih parah darimu ternyata.Ugh shut up! Hahaha okay. Mungkin norak dan tampak kekanak-kanakan tapi aku tetap perempuan yang memang ingin diperhatikan dibalik sosok angkuhku. Aku tersentuh

“Aku hari ini baru saja mendapatkan tawaran pekerjaan. Cukup menantang tapi aku masih belum memutuskan.” Jika menurutmu bekerja di daerah konflik itu kurang menantang, kau gila. Hahaha kau dan aku kan sama-sama gila. Aku bagian terwaras dari dirimu. Really? Yeah!

“Well, selamat.” Suaranya terdengar lesu. Sepertinya sesuatu sedang terjadi. Aku tidak akan bertanya sampai dia berbicara sendiri padaku. Ah kau ini.

Tiba-tiba sambungan telepon terputus dan suasana hatiku langsung berganti. Aku tidak akan menghubunginya dulu. Silakan kalau kau sanggup hahaha. Mungkin ada hal yang membutuhkan waktu untuk disampaikan. Baiklah kau lakukan apa yang menurutmu baik. Thanks.

Beberapa kejadian belakangan membuatku muak dengan hidup ini, ingin rasanya aku akhiri dengan sekejap. Diakhiri dengan sekejap itu mudah, tapi apa kau sanggup menerima konsekuensi bertemu Tuhanmu? Dengan cara tercepat ataupun termudah sepertinya sama-sama menarik. Aku bertanya Gin, apa kau siap bertemu dengan Tuhanmu? Membayangkan bagaimana nyawa meregang dengan begitu sensasional, nafas tercekat perlahan dan terputus perlahan. Ginessa! Sayangnya aku masih belum miliki keberanian untuk lakukan itu. Kau mengakhiri hidupmu sia-sia dan kau juga membunuhku, aku belum siap bertemu dengan Tuhanku. Hhh. Ginessa...

Manusia itu busuk, jika pun tidak busuk mereka hanya membuat agar kebusukannya tidak terlalu nampak. Hey, tidak semua dari mereka busuk. Aku juga mampu untuk melihat sesuatu dengan lensa positifku, hanya saja mereka selalu saja membawa atas nama moral dan agama. Gin, itu tatanan mutlak yang tentunya tidak akan pernah dapat diganggu gugat. Jika kau bertanya apakah aku percaya akan tuhan? Jawabannya mungkin antara ya dan tidak. Kau ini terlahir di dunia karena kehendak-Nya, Gin. Untuk apa? Menjadi pemimpin di muka bumi ini? Begitulah. Kadang aku tak habis pikir. Tentang apa? Elemen absolut tak tersentuh akal manusia, tak terjangkau nalar makhluk sempurna. Zat yang terlarang untuk dibicarakan unsur pembentuknya, zat yang tidak ada yang mampu serupainya. Zat itu absolut dan mutlak.  Aku heran bagaimana elemen sesuci itu bisa menciptakan manusia yang begitu memuakkan. Kau meragukan Tuhanmu, Gin?

Bukan aku meragukan-Nya, tapi aku heran kenapa Dia menciptakan manusia dengan penuh topeng? Kau pikir kau tidak bertopeng? Tidak. Aku adalah aku apa adanya. Kau akan lihat aku tetap sama dimanapun aku ada. Saat kau berpura-pura tidak bisa mendengarku saat berada dalam kerumunan, bukankah itu topeng? Hanya aku yang mampu mendengarmu. Jadi kau memang bertopeng kan?! Tidak.

Mereka terlalu takut dengan penilaian orang banyak. Kau tidak? Tidak. Sayang, saat kau bersama banyak orang dan bersikap seolah aku tidak ada bukankah itu caramu untuk menghindari penilaian atas dirimu? Aku tahu kapan berbicara kepadamu dan kapan aku harus diam. Itu karena kau takut dianggap tidak waras. Dunia ini yang tidak waras. Dan kau adalah bagian darinya. Accept that!

Kamis, 28 Juli 2011

Psyche [4]


Berjalan perlahan, menatap langit memerah kala senja. Mendengar bisik lirih angin mengucap salam pada langit yang mulai pamit. Bulir hangat jatuh perlahan, mengusap keringnya pipi dengan kelembaban. Helaan nafas panjang, terasa ada perih yang menyayat dalam hati. Luka yang butuhkan lama waktu untuk pulih. Bahkan, pulih pun menjadi hal yang mustahil terjadi. Gin, biarkan waktu yang sembuhkan lukamu. Tapi lukaku itu mungkin tidak akan pernah sembuh. Tidak jika kamu selalu berkata tidak pernah.

Aku dan langkahku. Berjalan gontai kadang tersaruk, mencoba menetralkan suasana hati. Diam dalam keributan, karena bibirku tidak mengeluarkan suara tapi pikir dan hatiku begitu gaduh. Semakin gaduh dengan kebisingan sekeliling. Aku selalu ada menemanimu, jika kau merasa aku membuatmu bising maka aku akan diam. Jangan. Aku membutuhkanmu untuk tetap membuatku waras. Kenapa kau begitu peduli dengan orang yang bahkan tidak pernah peduli padamu? Entahlah. Itu karena kau terlalu baik. Berhentilah menjadi baik sekali waktu. Duniaku terkadang berputar lebih cepat dan terkadang berjalan lebih lambat, tetapi jam tubuhku selalu sama. Semua bergantung pada caramu bersikap, Gin.

Semua tentangku hanya untuk membuatku merasa lebih baik, hanya ada aku untuk diriku sendiri. Tak ada yang mau merepotkan dirinya untuk duduk dan sekadar mendengarkan aku. Aku mendengarmu meski kau terdiam. Mereka semua hanya ingin bercerita tentang masalah mereka sendiri, sehingga aku lupakan apa yang membebaniku. Berbicara dan berceritalah padaku. Aku lebih sibuk dengan apa yang menjadi beban di pundak semua orang, karena aku pikir lukaku dan semua sedihku akan pergi. Tapi pada kenyataannya semua itu tidak mau pergi, bukan? Entahlah.

Ketika keramaian perlahan memudar, perlahan kembali seperti semula, hanya ada aku. Dan kita. Kembali sendiri dengan semua tentangku. Tentang kita, Gin. Dalam keheningan itu justru kau begitu gaduh, berisik dan menuduh-nuduh. Aku begitu karena hanya aku yang mengerti ssemua tentangmu. Ini memang hanya sebuah kisah tentang hidupku yang membosankan. Tapi kisahmu baru dimulai saat kau membuka hatimu untuk Nail. Begitu datar tanpa ada sedikit pun kejutan, semua begitu dingin. Nail yang akan memberikan banyak kejutan dan menghangatkan duniamu.

Setiap aku melangkah, aku tahu arah langkah itu tetapi rasanya aku diseret mengikutinya, bukan dengan atas kehendak hati sendiri. Ya aku tahu. Ada yang menyeretku ke sana. Suatu Kuasa di atasku, di atas kita. Menenggelamkan diri dalam berbagai kesibukan yang satu demi satu menelanku. Tetapi duniamu masih tetap redup. Membuatku lupa dengan siapa diriku sebenarnya. Aku yang akan ingatkan siapa dirimu.

Langkah ini benar justru sangat benar karena aku dianggap orang pilihan ketika mampu memikul tanggung jawab ini. Hey, bukankah itu karena kau yang membiarkannya terjadi? Tahun demi tahun aku masih menikmati dan terus menikmati. Tetapi ketika setiap kesibukan itu selalu menuntut dan mengarah pada kesibukan lainnya, tubuhmu mulai protes. Ya otakku pun sering panas dan hatiku menjadi tidak sabaran. Hahaha sangat tidak sabaran.

Lelah dan semakin lelah, ketika aku bicarakan apa yang aku rasakan, semua hanya menepuk pundakku dan selalu mengatakan bahwa aku adalah orang pilihan sehingga seharusnya aku bersyukur telah memperoleh semua itu. Ya, ya. Aku bersyukur hanya saja aku sudah mulai merasa jenuh. Perlahan ada rasa kesal yang memuncak, sedikit-sedikit semua menggumpal seperti sebuah bola salju yang siap menggelinding di saat yang tepat. Sebuah bola yang pasti akan semakin besar dan tidak lagi dapat kau kendalikan. Aku tidak pernah membenci semua ini, hanya merasa sesak, merasa aku tertelan oleh semua aktifitas. Sepenuhnya aku mengerti. Semua hanya menjadi sekadar rutinitas belaka. Kau tidak ada bedanya dengan sebuah robot yang diprogram untuk melakukan semua pekerjaan. Ya dan aku lelah.

Usiaku tidak lagi muda, tubuhku juga tidak lagi seperti dulu. Kau memiliki Nail sekarang, dia sangat peduli padamu. Dia tidak pernah mempermasalahkan semua itu. Rasa sakit yang dulu masih bisa kupermainkan, sekarang mulai mempermainkanku. Dia selalu mendukung dan menguatkanmu. Perasaanku tentang berbagai hal yang indah dan berbau cinta sudah sangat lama dipendam. Tidak mungkin untuk menggalinya lagi, mati rasa sudah. Kau mencintai Nail. Wajahku tersenyum demi kesenangan orang-orang sekitarku, suara lembutku hanya demi menyenangkan mereka yang sedang merasa gundah. Aku bahkan sering lupa seperti apa senyum yang sebenarnya. Nail tulus padamu

Sering aku berpikir bahwa aku tidak pernah meminta semua yang terjadi padaku...Ini pelajaran hidup. Ya aku tahu benar bahwa selalu ada pelajaran berharga di balik semua itu. Hanya saja… ya hanya saja aku merasa masih enggan untuk menelaah dan menafsir semua itu. Aku tahu semua kerja keras ini tidak boleh diiringi dengan gerutuan yang akhirnya membuat semuanya menjadi sia-sia. Buka lagi hatimu untuk Nail, biarkan cinta dan ketulusannya membuatmu merasa lebih baik

Pada kenyataannya aku takut dengan dunia ini. Ada kami bersamamu, aku dan Nail.

Minggu, 24 Juli 2011

Psyche [3]


Semua ritual itu tidak bermakna kan? Jika kau bertanya padaku, ritual itu bermakna selama ada keyakinan dalam hatimu. Kenapa aku harus melakukannya? Karena itu yang menjadi keyakinanmu dan keluargamu. Boleh jika aku mencoba menjalani yang lain? Silakan saja jika itu maumu. Tapi untuk saat ini aku hanya akan mencobanya diam-diam.
Memegang sebuah rosario tidak ada bedanya dengan memegang sebuah tasbih, lalu apa yang membedakannya? Keduanya memiliki kesamaan bentuk tetapi nilai yang berbeda bergantung pada keyakinan dalam hatimu. Membakar dupa dan menabur bunga itu bodoh dan sia-sia. Itu menurutmu, tapi mereka yang memiliki keyakinan akan hal tersebut akan mengejarmu jika mendengarmu merendahkan mereka. Tidak, aku tidak merendahkan. Hanya saja  buatku tampak sia-sia.
Lalu apa sekarang kau menemukan mana yang lebih nyaman untuk kau jalani? Belum. Lihatlah kedua orang tuamu itu, mereka begitu taat pada keyakinannya, bicaralah dengan mereka. Kau pikir mudah bicara pada mereka setelah sekian lama aku bungkam? Entahlah, tidak ada salahnya dicoba. Bagaimana aku  harus bertanya? Tanyakan apapun yang kau mau.
Kamarku adalah area terlarang untuk semua orang terkecuali aku. Saat ini di hadapanku terdapat benda-benda yang mewakili nilai spiritual. Sederetan patung kecil Budha Ju Lai, White Madonna, Ganesha dan Krishna. Sebuah mangkuk kecil dengan tiga batang dupa menancap di bagian tengahnya. Apa aku terlihat seperti seorang yang tidak masuk akal? Hahaha, kau tidak pernah masuk akal.
Menggerakkan tangan kananku seperti seorang penganut nasrani yang taat atau seperti seorang budhis dan hindi yang taat atau bahkan seperti seorang muslim dalam setiap gerak ritualnya. Semuanya masih belum mampu memberikan sebuah gambaran tentang ketenangan padaku. Mungkin jika aku memberi sedikit jeda untuk mempraktikan setiap ritual akan menjadi lebih mudah.
“Nessa, ayo turun dan makan malam.” Suara seorang wanita paruh baya, satu-satunya wanita yang tinggal di rumah selain aku. Menggubris permintaannya tidak pernah aku lakukan dengan sukarela, tapi dengan sebuah keterpaksaan. Jika tidak ada dia, kau mati kelaparan. Iya aku tahu itu, tapi bukan berarti aku harus mengikuti semua kemauannya. Setidaknya berbaik hatilah sedikit, dia tidak lagi muda. Ya ya.
“Sebentar lagi, Oma.” Jangan salahkan aku terus jika selalu berteriak-teriak, aku hanya membalas sikapnya padaku. Dia teriak dan kau teriak, semua orang teriak. Ya. Mengalah sedikit jangan seperti seorang anak kecil ingusan. Tidak begitu. Ya memang begitu.
Oma membenahi kain penutup kepalanya dan menarik sebuah kursi untukku duduk. Dia termangu menungguku. Dia sayang padamu, Gin. Aku tahu. Bersikap manislah. Ok.
Semangkuk bubur berisi sayuran dan cacahan daging lengkap dengan roti terhidang di depanku. Uap dari mangkuk itu menghempaskan aroma wangi menggelitik hidungku. Tiba-tiba aku lapar. Makanlah, dengan begitu kau sudah baik padanya. Sewaktu aku menyendok bubur, Oma mengambil roti di keranjang dan membaginya menjadi dua. Sebagian yang lain dibiarkannya di keranjang, sementara sisanya dia sodorkan untukku.
“Makan yang banyak, jangan smpai Nessa sakit.” Parau. Dia terlalu tua untuk mengurusimu. Lalu apa aku harus memintanya pergi atau aku yang pergi? Tidak, mungkin itu tidak perlu.
“Makanan ini lezat.” Ujarku menanggapi perkataanya. Oma hanya tersenyum sambil menatapku makan. Rasanya sangat tidak menyenangkan ketika seseorang menatapmu saat sedang makan. Bukankah itu tidak sopan? Tapi dia orang tua, ada pengecualian untuknya. Hah, sama saja tidak sopan.
“Baguslah Nessa menyukainya. Makan yang banyak, Oma membuatkan sepanci penuh untukmu.” Menyodorkan kembali sisa roti tadi kepadaku.
“Makasih Oma.” Aku menerima roti itu dan memakannya. Saat aku mengambil roti itu, aku baru menyadari betapa keriput tangannya. Tangan itu lelah mengurusimu. Aku tidak pernah memintanya begitu. Memang, tapi itu karena dia menyayangimu. Aku melihat wajahnya. Oma pasti dulu seorang gadis manis, alisnya masih tetap hitam meski dihiasi beberapa yang memutih.
Oma muslim yang taat, jika kau tidak mau berbicara dengan kedua orang tuamu aku rasa kau bisa berbicara padanya. Mmm, aku coba tapi tidak akan untuk saat ini. Bulan ini sungguh berat. Semua laporan yang menumpuk di mejaku harus segera tuntas, sisa tunggakan dana pendidikan pun harus segera aku lunasi. Kau bisa minta tolong Nail. Entahlah, keuangan dia saat ini sedang tidak baik.
Teh chamomile dituangkan Oma dalam cangkirnya, aroma minuman itu menenangkan. Oma menghirupnya perlahan. Uap panas membuat kabut tipis pada kacamatanya. Aku perhatikan gerak-geriknya ketika melepaskan kacamata dan membersihkannya dengan ujung penutup kepalanya. Dia tersenyum padaku saat memergokiku menatapnya. Ku rasa kau sayang padanya. Dengan caraku sendiri.

Selasa, 19 Juli 2011

Psyche [2]


Berdiri di depan sebuah cermin, mengamati setiap detil wajahku. Bayangan itu melakukan seperti apa yang aku lakukan, tetapi sebenarnya siapakah yang nyata?
Kau tidak jelek. Tapi, matamu yang dulu bersinar terang penuh gairah sepertinya mulai meredup. Coba lihat garis tipis di bawah matamu itu, juga kantung mata dan bayangan hitamnya. Aku tahu semua itu, tapi yang nyata dan hidup dalam realita itu siapa? Aku atau dia? Kau atau dia, jawabannya tidak penting. Bukankah saat ini kau mampu merasakan banyak hal? Apakah perasaan itu menunjukkan siapa yang nyata? Bukan, tapi menunjukkan bahwa kau hidup.
Bayangan di sana seolah menatapku curiga, sinar matanya membuat bulu kudukku merinding. Aku tahu mata itu milikku tetapi tatapannya begitu tajam. Mata siapakah itu sebenarnya? Mata seseorang yang tidak pernah bisa kau bohongi seumur hidupmu.
Suara di luar kamar begitu sunyi, dentang jam menunjukkan hampir tengah malam. Hembusan angin masuk ke dalam ruangan membawa sentuhan ringan di wajah dan rambutku.  Tirai dan kelambu bergoyang kecil disapa angin lalu. Pandanganku kembali teralihkan pada bayangan di hadapanku.
Bukan saatnya kau mengasihani dirimu seperti ini. Kau harus buktikan bahwa apa yang mereka sangka itu hanya bualan dan tuduhan kosong. Tapi bagaimana jika apa yang mereka duga itu memang benar, bahwa aku memang berbeda. Lalu apa salahnya menjadi beda? Tidak salah memang tapi aku takut mereka tidak dapat menerimaku. Jika mereka tidak bisa menerimamu, cari saja mereka yang mau.
Terdengar langkah kaku berhenti di balik pintu kamarku. Sejenak aku menoleh mencari siapa yang berdiri di depan pintu itu. Ketukan pelan tanpa panggilan apapun. Kursi tempatku duduk berderit pelan saat aku bangkit. Ketukan itu terdengar lagi memaksaku menghampirinya meski malas.
“Jendela kamarmu belum kau tutup dan kamarmu masih sangat terang, jadi aku memberanikan untuk kemari. Apa aku mengganggumu?” Pria ini dulu adalah orang yang membuatku jatuh hati, tapi sekarang aku justru merasa kasihan padanya.
“Tidak. Aku memang masih belum mengantuk. Ada apa?” Suaramu itu, cobalah sedikit lebih terdengar lebih berperasaan. Aku kasar karena lelah, lagi pula kenapa dia harus datang tengah malam begini.
“Kau mau kita berbicara begini?” aku tahu dia berharap aku mengundangnya masuk, jadi aku melebarkan pintu dan memberinya jalan. Kaki kanannya melangkah masuk, dia tampak kikuk. Kepalanya menoleh kiri kanan mencari tempat untuknya duduk.
“Duduklah di kursi depan cermin itu. Aku tidak keberatan.” Pintu kamar aku tutup dengan membiarkannya sedikit terbuka. Kelambu di ranjangku bergoyang lagi, aku duduk di ujung tempat tidur menjaga jarak dengannya.
Kau tidak perlu bersikap sekasar dan sedingin itu padanya. Cukup hati-hati saja.
Kepalanya masih tertunduk manatap lantai kamar, entah apakah dia kesulitan mencari alasan untuk menemuiku di tengah malam atau memang sedang kesulitan mengutarakan apa yang begitu mengganggunya. Tangan kanannya mengepal membentuk sebuah tinju, tetapi kelihatan sangat lemah. Kepalan tinju itu ditutupi dengan tangan kiri seolah ingin menenangkannya.
Ayolah tanyakan kenapa dia datang! Aku tidak mau, biarkan saja dia yang berbicara terlebih dulu. Kau ini, semakin cepat dia bicara semakin cepat dia keluar dari ruang pandangmu. Hhh, baiklah.
“Jadi...ada apa?” mencoba melunakan suaraku. Aku yakin dia bisa merasakan keterpaksaan itu dalam suaraku.
“Apa semua ini memang harus diakhiri seperti ini?” getaran suaranya dalam, rasa bersalah akan sesuatu yang bahkan aku belum tahu kenapa perlahan merayapi hatiku. Tapi, aku tetap diam.
“Gin, apakah kau benar menginginkan aku pergi dan melupakanmu?” suaranya semakin dalam, mungkin terlalu dalam sehingga dentang suara jam mengalahkannya.
Nah, sudah ku duga dia memang ingin membicarakan itu. Jawablah!
“Aku tidak bisa lagi menjalani hubungan ini, terlalu menyakitkan menemukan sebuah ikatan yang penuh kepalsuan.” Setengah mati aku berusaha menghindari tatapan matanya.
Jawablah dengan baik, jangan biarkan amarahmu itu membuatmu semakin terluka dan menyesal. Aku tahu itu, diamlah.
“Kau keterlaluan, apa sebenarnya yang kau mau? Hatiku tidak mungkin lagi kau miliki, jadi berhentilah berangan-angan.” Kedua tanganku mulai gemetaran, ujung kelambu menjadi tempatnya bergantung. Mataku terasa panas, detak jantungku terasa semakin cepat. Yang ku dengar hanyalah desahan nafas, aku mengintip ke arahnya.
Jangan menangis, dia sudah menyakitimu tapi jangan terlihat lemah dimatanya.
“Gin, aku salah, tetapi apa aku tidak pantas mendapatkan kesempatan kedua untuk mncobanya lagi?”
“Maaf.”
Leroy berdiri menghampiriku. Sekarang kau harus sangat hati-hati, berdirilah. Aku tidak mau mendengarmu lagi, diamlah ku mohon. Tanpa aku sadari dia sekarang berlutut di depanku. Tangannya diangkat perlahan menyentuh lenganku, dan aku tidak bereaksi apapun. Ginessa! Anehnya tanganku terasa sangat kaku seolah terikat pada sebuah bongkahan batu. Sialan kau, Ginessa!
Aku tidak mampu menggeser tubuhku meski sedikit saja, terpancang tanpa daya. Leroy menundukkan kepalanya di pangkuanku, sementara itu aku tetap mematung diam. Tuhan! Ginessa, sadarlah! Aku memerintahkan kedua tanganku bergerak tapi sia-sia, tidak ada tenaga. Dia tengadah dan menaikkan kepalanya mendekati wajahku. Ah kalian ini brengsek!
Mata kami bertemu dan kesedihan berdiam di dalamnya.
“Ginessa, maafkan aku.” Leroy berbisik di telingaku. Ingatlah apa yang dia pernah lakukan jadi berhati-hatilah! Apapun katamu aku tidak berbuat apa-apa. Dia menyisipkan jemari tangan kanannya dalam rambutku, mencoba menarik nafas pun tiba-tiba saja sangat berat. Dapat aku dengar nafas yang juga berat di sampingku, jadi aku sedikit memiringkan kepalaku dengan susah payah mencoba menghindarinya.
Leroy menyadari gerakan tiba-tiba dan kaku itu, bibirnya kini menyentuh bibirku. Hangat. Sialan! Aku ingin ini, tapi aku juga tidak mau sakit lagi. Jadi hentikan, perintahkan kedua kakimu untuk berdiri dan kedua tanganmu itu menjauhkan kepalanya darimu. Tidak bisa!
Bibirnya hanya menempel lembut, kelembaban dari nafasnya membuat wajahku memanas. Aku memalingkan perlahan kepalaku, tetapi dia menahannya dan mendorongku ke belakang perlahan.Ginessa, dasar jalang! Tolong aku, aku tidak bisa menolaknya.
“Gin, aku masih ingin bersamamu.” Dia ada di hadapanku tetapi suaranya masih terdengar terlalu jauh. Aku mengangguk perlahan. Kau ini apa-apaan? Entahlah aku bingung. Leroy mencium keningku dan menyentuh pipiku, aku ragu apakah ini nyata atau hanya khayalanku. Ini nyata! Bajingan itu ada di atas tubuhmu! Seolah tersadar aku mengerang perlahan, tetapi erangan itu membuatnya memelukku semakin erat.
“Lee, hentikan.” Ahhh akhirnya suaraku bisa terbebas. Kedua tanganku mulai dialiri tenaga dan mendorongnya dari atasku dengan hanya bertumpu pada punggung aku kesulitan untuk bangun. Dorong bajingan itu dan seret dia keluar!
“Gin, jika kau memang ingin aku pergi dan lupakan keberadaanmu itu akan terpenuhi. Hanya saja biarkan aku merasakan keberadaanmu sebentar saja.” Kini suaranya terdengar nyaring tetapi mengiba.
Tidak, Gin! Jangan berikan apa yang dia mau!
“Lee, aku mohon.” Leroy bangkit dan menarik dirinya untuk berdiri. Aku pun bangkit perlahan. Dia berbalik tanpa bicara sepatah kata pun.
Aku tidak mau dia pergi, belum bisa, jangan sekarang. Sudahlah, kau akan menemukan yang jauh lebih baik. Tapi tidak mungkin aku membuangnya dari ingatanku begitu saja. Tidak begitu saja, biarkan ingatanmu tentangnya hilang tertutup kenangan baru. Baiklah.
Seketika langkahnya berhenti, ada orang lain di depan pintu kamar. Leroy membuka lebar-lebar pintu itu dan menarik nafas sangat dalam, sampai aku di kejauhan pun merasakan kepedihannya. Seorang perempuan berbalut pakaian tidur berwarna biru lembut, tangannya membawa setumpuk selimut dan bantal. Dia tidak bersuara, hanya diam dan membiarkan Leroy berlalu. Dia tersnyum dan menutup pintu kamarku. Aku diam hampir tanpa ekspresi.